Tentang Kami
Perjalanan panjang Merapi Paragliding Club mengembangkan olahraga dirgantara di Indonesia sejak 1990.
Lahir Dari Cita-cita Dan Kecintaan Pada Alam
Sejarah berdirinya Klub Paralayang Merapi Indonesia, tidak lepas dari perjalanan panjang awal mula dikenalnya olahraga paralayang di Indonesia. Dimulai sejak tahun 1989/1990 di Pantai Parangtritis Yogyakarta. Lebih 35 tahun yang lalu cerita tentang olahraga paralayang yang awalnya disebut Olahraga “Terjun Gunung” ini bermula.
Sebuah cerita yang bisa dibaca untuk mengenang bagaimana perjuangan para pelopor yang memulainya dengan segala keterbatasan. Tanpa pengetahuan teknik, minim sumber informasi, serta keterbatasan alat; hanya berbekal parasut pinjaman dan sebuah “manual book” berbahasa Perancis – tempat asal lahirnya olahraga ini – yang tentunya asing telinga.
Jauh dari kondisi ideal untuk memulai belajar sebuah olahraga “ekstrem” yang mengandung resiko cukup tinggi. Dimulai dari langkah setapak, dengan semangat, tekad, dan upaya yang tak kenal lelah dari para pelopor dan penerus, pada akhirnya olahraga paralayang bisa menjadi seperti apa yang kita lihat sekarang ini.
Paralayang yang semula dianggap hanya milik “petualang nekat”, berkembang menjadi olahraga dan hobi yang diminati banyak orang. Paralayang juga menjadi andalan bagi pengembangan wisata petualangan. Tak hanya itu, kini Paralayang menjadi salah satu kebanggaan bangsa dengan prestasi yang mendunia.
Tahun 1990, Langkah Awal Lahirnya Paralayang Di Indonesia
Olahraga alam bebas tumbuh subur pada dekade ini. Banyak kelompok pencinta alam bermunculan dengan berbagai kegiatan seperti: naik gunung, arung jeram, panjat tebing, menyusuri goa dan lain-lain. Boleh dibilang, kegiatan petualangan alam bebas di indonesia mencapai puncaknya pada saat itu. Persaudaraan, pertemanan dan komunikasi antar penggiat alam bebas juga sangat erat saat itu dengan seluruh dinamikanya. Latihan dan kegiatan bersama dengan berbagai kelompok menjadi sebuah ikatan batin yang membuka ruang-ruang komunikasi positif untuk saling belajar dan bertukar informasi.
Beruntunglah Dudy Arief Wahyudi berteman dengan Lody Korua, karena bermula dari pertemanan inilah sejarah olahraga paralayang berkesempatan dimulai. Pada akhir tahun 1989 ini, Lody meminjamkan parasut yang dimilikinya kepada Dudy. Lody memperoleh parasut ini dari wartawan TV3 Toulouse Perancis yang ia antar berpetualang ke Pulau Seram tahun 1988.
“Lu bawa aja Dud, gue belum sempat latihan,” Ujar Lody yang saat itu sibuk dengan arung jeram, olahraga yang jadi mainan barunya. “Tapi lu harus janji, nanti kalau lu udah bisa, ajarin gue dulu baru ajarin Norman,” Kata Lody di rumahnya di jalan Serang Menteng, Jakarta. Lody dan Norman Edwin, meski sebenarnya berteman baik tetapi saling bersaing dalam kegiatan alam bebas.
Lody mau meminjamkan parasutnya dengan beberapa alasan. Pertama, dia belum tahu cara memakainya. Kedua, dia juga belum punya waktu karena sibuk dengan arung jeram dan bisnis travel petualangannya yang cukup dikenal di kalangan orang-orang asing pada waktu itu. Akhir tahun 1989, parasut Drakkar Everest buatan Parachute de France pindah dari rumah Lody di Menteng, Jakarta ke Gang Timor Timur, Yogyakarta.
“Get, gua dapat pinjeman parapente. Ayo kita latihan,” Ujar Dudy kepada saya sebagai rekan sekampus sekembali memboyong parasut itu dari Jakarta.
Tahun baru 1990, parasut digelar dan dicoba dikembangkan pertama kali di lapangan Bebeng, Kinahrejo, Kaliurang tak jauh dari rumah Mbah Maridjan. Saya memang berteman akrab dengan Dudy dalam berkegiatan alam bebas.
Video Dokumentasi
Legalitas Organisasi
Klub Paralayang Merapi Indonesia terdaftar resmi dan memiliki legalitas yang sah sebagai organisasi pembinaan olahraga dirgantara di Indonesia.